Hidup yang Tak Diperjuangkan, Tak Akan Pernah Dimenangkan

Bagi Ketua Keluarga Alumni (KA Unsoed) Haiban Hadjid, sukses yang diraih saat ini berawal dari 2 prinsip sederhana : Pertama, Selalu percaya pada Tuhan bahwa setiap kebaikan akan dibalas kebaikan pula. Kedua, setiap kegagalan adalah cara Tuhan menguji hamba-Nya untuk sampai pada kesuksesan dalam hidup.

Masuk Unsoed pada tahun 1980 di Fakultas Pertanian Jurusan Sosial Ekonomi (Sosek) Pertanian, alasan Haiban memilih Unsoed sangat sederhana : Karena dekat dari rumah. Pilihan yang kelak justru mengantarkannya menjadi bagian penting yang tak terpisahkan dari Unsoed.

Lulus kuliah awal tahun 1985, Haiban dihadapkan pada pilihan sulit. Untuk mendaftar PNS, Indeks Prestasinya tak memungkinkan. Tapi, dengan IPK pas-pasan itu, apapun harus dilakukan untuk mendapat pekerjaan. Pilihannya jatuh pada hal yang rumit : Mencari kerja di Jakarta.

Tentu bukan hal mudah bagi sarjana pertanian  dari daerah untuk mengadu nasib di Ibukota. Terlebih jaringan alumni Unsoed saat itu masih sangat terbatas –kalau tak mau dibilang tak ada sama sekali.

Pilihan kerja di Jakarta, mengantarkannya menjadi Medical Representatives  di salah satu perusahaan farmasi. Selama hampir 4 tahun menjadi Sales di bidang Farmasi, Haiban belajar banyak hal tentang membangun relasi dan bagaimana menjaga kepercayaan dari klien.

Bagi Haiban, pekerjaan pertamanya sebagai Medical Represenative adalah juga persentuhan pertamanya dengan realitas Jakarta yang keras, banyak godaan, dan hampir tanpa kompromi. Namun, dari jatuh – bangun menghadapi realitas itulah yang justru menguatkannya untuk terus belajar pada hidup.

Profesi sebagai Marketing ini memang jauh dari bidang kuliahnya di Sosial Ekonomi Pertanian Unsoed. Hampir tak ada hubungannya sama sekali. Tapi, bagi Haiban, yang penting adalah keseimbangan antara apa yang didapat di kampus, dengan pembelajaran sebenarnya di universitas kehidupan.

Menjadi marketing untuk perusahaan farmasi tentu tak mudah. Lebih tak mudah lagi, menjadi marketing yang teguh pada prinsip untuk menghindari hal-hal negatif. Berulang kali gagal, ditipu dan bahkan sampai diintimdasi kenyang dirasakan Haiban. Tapi menurutnya, dari keteguhan prinsip itulah rezeki datang, What goes around comes around.

Titik Balik

‘Tuhan sudah tahu, Ia hanya menunggu.’ Puisi dari penyair asal Rusia Leo Tolstoy tersebut merupakan gambaran pentingnya kesabaran dalam meniti jalan sukses. Penting bagi kita untuk percaya, bahwa pada setiap kegagalan ada hikmah dan pembelajaran untuk bangkit dan tidak menyerah.

Selama 4 tahun malang melintang di perusahaan farmasi, pada tahun 1989 Haiban memutuskan pindah ke perusahaan telekomunikasi Erricson. Posisinya tak jauh beda dengan sebelumnya, yakni sebagai Marketing Executive. Hanya kali ini, kliennya berasal dari perusahan yang lebih besar ddan lingkup pekerjaan yang lebih luas.

Haiban Hadjid masih ingat tanggal itu : 1 April 1994. Setelah hampir 4 tahun bekerja sebagai Marketing Executive, tiba – tiba oleh pimpinannya ia diminta untuk mulai bermain Golf. Hal yang nyaris mustahil karena olahraga ini terkenal mahal dan punya kelas sosial sendiri. Gajinya saat itu jauh dari cukup, bahkan hanya untuk satu kali bermain Golf.

Tapi, dengan sedikit bantunan dari atasannya, Haiban terima tantangan bermain Golf. Seingatnya, inilah salah satu titik balik dalam hidup seorang Haiban Hadjid. Melalui relasi yang dibangun dari permainan Golf, jaringan bisnisnya semakin luas. Dari Golf juga, Haiban mendapatkan banyak klien di bidang teknologi informasi.

Tentu Golf hanya sarana. Di atas semuanya, ini adalah tentang menjaga kepercayaan klien, memperluas jaringan bisnis dan tentu kemauan untuk terus berkembang Tanpa kemauan, tanpa keberanian untuk terus berkembang, seseorang akan sulit menapak jalan suksesnya.

Efek dari pelajaran bermain Golf dan segala pembelajaran di dalamnya, masih terasa hingga sekarang. Saat ini Haiban Hadjid merupakan Pemilik perusahaan telekomunikasi yang bergerak di bidang penyedia jaringan dan infrastruktur Private Automatic Branch eXchange (PABX). Percaya atau tidak, Erricson tempat bekerjanya dulu, kini menjadi klien perusahaan Haiban.

Selain bergerak di bidang telekomunikasi, Haiban juga merambah bisnis properti. Salah satu asetnya adalah Kompleks Ruko di Ciruas, Serang Provinsi Banten.

Di Ruko Serang ini, ada sekitar 1000 pekerja lebih dari beragam Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Selain itu, sudah ada beberapa proyek properti yang disiapkannya di sekitar Jabodetabek.

Setelah melewati banyak pengalaman dalam hidup, Haiban ingin terus dapat memberi manfaat. Salah satunya, berkontribusi memajukan Unsoed. Kesediaannya menjadi Ketua Keluarga Alumni Unsoed (KA Unsoed) tak lepas dari perasaan utang jasanya pada almamater.

Haiban berharap Alumni Unsoed menjadi lulusan yang tangguh, berdaya saing tinggi dan –yang paling penting- tak mudah menyerah. Bagaimanapun, setiap kesulitan adalah cara Tuhan menguji hambanya. Persis seperti yang pernah disampaikan penyair Jerman Frederich von Schiller : Hidup yang tak diperjuangkan, tak akan pernah dimenangkan. [iko/webtimkaunsoed]