Startup Bisnis, bekal baru bagi alumni muda UNSOED

Jakarta, Sabtu (9/4/2016) — Hujan mulai mengguyur Cipayung, Jaktim, lokasi kediaman Ketua Umum KA UNSOED Bapak Haiban Hadjid. Puluhan alumni muda masih semangat melanjutkan sharing bersama Fauzan Artga. atau akrab disapa Ujoy, seorang praktisi digital marketing khususnya growth hacker marketing yang tengah menggeluti dunia startup atau perusahaan rintisan berbasis online.

Beberapa perusahaan besar telah menggunakan jasa Alumni Fakultas Ekonomi angkatan 2007 ini. Mulai dari membuat website, aplikasi, penyusunan strategi marketing, project planner hingga strategi growth hack. Sebut saja beberapa e—commerce diantaranya hijabdeel.com dan jasa pesan antar makanan foodtaxi.co.id merupakan hasil kulikannya. Fauzan juga tengah merintis sebuah startup bekerjasama dengan Uber bernama Fillga.com.

Fauza Artga, Alumni Muda UNSOED praktisi Hack Growth Marketing menyampaikan betapa gurihnya startup bisnis

Dalam kesempatan Kopdar sesi 2 ini, Fauzan sharing wawasan dan pengalaman dari A sampai Z terkait startup atau perusahaan rintisan berbasis online termasuk strategi digital marketing. Para alumni muda menikmati suguhan wawasan kekinian yang sebetulnya secara tidak disadari sudah lekat di keseharian.

“Start up ini lagi in banget. Kita udah kenal banyak start up sukses yang kita pakai sehari—hari. Misalnya aplikasi ojek dan taksi online (Gojek, Grab, Uber), pesan makan online (Foodpanda, Foodtaxi), belanja online (Lazada, Zalora, Hijup, Mataharimall) sampai ada asisten online dan aplikasi untuk mengolah keuangan pribadi,” kata pria bertubuh jangkung ini.

Fauzan mengatakan, peran para startup ini telah berhasil memecahkan masalah—masalah sosial. Masyarakat pun dimanjakan dengan berbagai kemudahan dari produk aplikasi yang dihasilkan. Contoh sederhana, aplikasi ojek online yang menawarkan kecepatan dan tarif transparan bisa dipesan kapan saja dan dimana saja berhasil menjadi solusi transportasi umum bagi penduduk kota besar dengan mobilitas tinggi.

“Belanja online sudah jadi habit (kebiasaan). Begitu juga dengan transportasi. Kemana—mana perginya naik Grab, Gojek, Uber, keseharian kita udah terbiasa dengan aplikasi. Produk startup itu kuncinya memecahkan masalah dan membuat peluang dari masalah itu,” tutur Fauzan.

Aplikasi berhasil memanjakan masyarakat. Bisnis di bidang tersebut pun terbilang seksi. Terbukti dari keberhasilan berbagai startup meraih nilai bisnis atau valuasi hingga triliunan Rupiah.

“Valuasi berbagai jenis startup seperti e—commerce atau toko online kaya HijUp, Zalora dan Matahari Mall atau marketplace seperti Tokopedia dan Bukalapak itu menggiurkan banget, bisa sampai miliaran bahkan triliunan nilainya,” kata Fauzan.

Fauzan juga menceritakan seksinya perusahaan startup yang saat ini menggoda anak—anak muda bekerja di sana. Apalagi perusahaan tersebut tidak terikat rutinitas kantor dan penuh ide—ide kreatif.

“Kerja di perusahaan startup itu mau dateng pake celana pendek, kaos, itu boleh aja. perusahaan startup meeting cuma sekali seminggu misal hari Jumat setelah itu mau ngerjain kerjaan di taman, di mall, dimana aja bisa. Bisa juga tempat kerjanya di co—working space atau tempat yang dibuat untuk meeting bergantian dengan perusahaan lain,” papar Fauzan bersemangat.

Keseksian bisnis ini pun tidak lepas dari kontroversi karena bisnis konvensional terjepit kehadiran bisnis online. Masih lekat dalam ingatan kontroversi ojek pangkalan vs ojek online.

“Bisnis melawan konvensional itu bisnis paling seksi sekaligus paling banyak kontoroversi. Tapi itulah bisnis yang paling gede kekayaannya apalagi bisnis yang menawarkan sharing economy. Perusahaan—perusahaanyang menjalankan bisnis seperti itu justru yang paling besar nilai valuasinya atau nilai bisnisnya,” ujarnya.

Alumni muda pun semakin penasaran. Fauzan kemudian melemparkan pertanyaan, “Kepikiran nggak, perusahaan semacam ini bisa dapat untungnya dari mana? padahal ada aplikasi yang anti iklan. Terus misalnya naik grab bisa cuma bayar goceng kan nggak masuk akal,” kata Fauzan memancing rekan alumni muda yang menyimak.

Fauzan kemudian masuk ke penjelasan soal monetize atau saat startup mulai menelurkan pundi—pundi. Banyak cara yang ditempuh perusahaan startup untuk bisa monetize walaupun dalam waktu bertahun—tahun.

“Gimana sih caranya mereka dapet uang? paling gampang memang iklan. Sebab fantastis juga nilai bisnis atau valuasinya bisa mencapai triliunan. Mereka bisa bertahun—tahun baru monetize,” kata Fauzan.

Rupanya, kata Fauzan Artga, perusahaan startup tidak selalu mengandalkan iklan. Dengan memanfaatkan dana investorlah para startup mulai mengembangkan bisnisnya. Setelah beberapa tahun, baru bisa menghasilkan uang dengan iklan, menjual riset dari big data yang dimiliki, serta tentu dari marjin kegiatan bisnis itu sendiri.

Selain untuk bisnis, perkembangan teknologi digital juga sangat bermanfaat oleh komunitas sosial. Aksi sosial pun bisa mencari dana lewat internet atau pendanaan crowd funding. Crowd Funding belakangan dimanfaatkan untuk menggalang dana aksi gerakan sosial.

“Contohnya Kitabisa.com dan Change.org. Kitabisa.com adalah website untuk menggalang dana (fundraising) secara online untuk berbagai macam kebutuhan. Telah terkumpul dana hingga Rp 7,2 miliar yang tersalurkan ke 606 kampanye terdanai,” ucap Fauzan.

Fauzan mencontohkan langkah sosial yang bisa dilakukan dengan crowd funding misalnya patungan sedekah atau patungan menjalankan project.

“Bisa patungan untuk sedekah, bisa patungan untuk buat suatu project bisnis. Crowd funding itu solusi UKM banget. Cari patungan modal, bukan donatur kaya aksi sosial,” tuturnya.

Mendengar peluang crowd funding untuk menggalang dana kegiatan sosial, Bapak Haiban tertarik supaya KA UNSOED bisa membuat aksi serupa yang bermanfaat bagi sesama bermodal dana crowd funding.

Wawasan digital marketing dari Fauzan Artga ditambah juga dengan sharing dari salah seorang alumni yang saat ini menjadi pengusaha di bidang telekomunikasi, Kartono, Alumni Fakultas MIPA yang juga bos perusahaan miliknya bernama Entracorp.

Mas Kartono menceritakan rencananya membuat sebuah startup yang bisa mengatasi persoalan petani menjalankan usahatani. Mas Kartono ingin membuat startup yang dapat mengumpulkan dana crowd funding untuk membantu petani menjalankan usahataninya hingga lepas dari belenggu rentenir.

Sharing dari Ujoy selama 2 jam pun berakhir. Waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB. Setelah shalat Ashar, acara ditutup dengan perkenalan seluruh alumni yang hadir dalam Kopdar sesi 2. Tidak ketinggalan ritual wajib yaitu foto bersama Pak Haiban Hadjid dan Bu Haiban yang sudah sangat baik hati menyuguh soto sokaraja, mendoan hingga gulai kambing.

Para alumni muda UNSOED menikmati soto khas Sokaraja, Banyumas